Minggu, 01 April 2012
Biaya BBM Seluruh Pabrik Gula Capai Rp 600 Miliar
SURABAYA: - Pabrik gula, terutama yang dikelola Badan Usama Milik Negera (BUMN), perlu meningkatkan efisiensi terutama menyangkut pengunaan bahan bakar minyak (BBM). Efisiensi dinilai mampu meningkatkan daya saing pabrik gula di dalam negeri, dengan peningaktan kualitas produk.
Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Gula Indonesia (IKAGI) Aris Toharisman di Surabaya, Minggu (1/4/2012), mengatakan, masih banyak pabrik gula (PG) menggunakan energi secara boros. Bahkan ada PG harus mengeluarkan biaya pembelian BBM hingga Rp 10 miliar, sehingga menyita sekitar 20-30 persen dari total biaya produksi. Akibatnya, untuk biaya pembelian BBM saja satu PTPN dengan 10-15 PG minimal mengeluarkan anggaran Rp 100 miliar.
Beban untuk pembelian BBM, menurut Aris, sangat besar. Padahal pabrik gula berpeluang menciptakan energi sendiri, dengan memanfaatkan tebu bekas gilingan.
Peneliti di Pusat Penelitian Perkebunan Gula (P3GI) itu menambahkan, berdasarkan studi P3GI pada 2005, seluruh PG milik BUMN, setiap tahun mengeluarkan biaya Rp 600 miliar untuk BBM. Kini, ada PG mulai memanfaatkan energi sendiri dengan mengolah ampas tebu, sehingga biaya BBM tinggal cuma Rp 4 miliar per tahun.
"Pemanfaatan ampas tebu bisa dilakukan jika perencanaan tebang benar-benar bagus, sehingga kapasitas produksi maksimal dan tdak mengalami kekurangan bahan baku tebu," katanya.
Faktor efisiensi adalah kunci utama untuk membangkitkan industri gula nasional. Apalagi saat ini inefisiensi pada industri gula BUMN masih terus mebelit. Inefisiensi terjadi mulai dari budi daya atau on-farm sampai pengolahan di PG atau off-farm.
Permasalahan manajemen tebang-angkut tebu hingga pemeliharaan membuat kualitas tebu menyusut. Akibatnya banyak kehilangan gula selama proses pasok tebu dari lahan petani ke PG. Pengolahan menjadi tidak efisien karena mayoritas PG BUMN menggunakan mesin tua peninggalan Belanda.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar