Rabu, 06 Juni 2012

Santri Alzaytun Kabur Karena Dipukul dan Dicekik Guru

Kisah Ridlwan, santri asal Ambon yang berhasil melarikan diri dari Al-Zaytun, melalui drama pelarian yang sukses bersama keluarganya, yang sebelumnya telah bertekad untuk menjemput paksa anaknya, bila perlu dengan kekerasan. Di bawah ini ringkasan penuturan Ridlwan dan keluarganya yang juga kami abadikan melalui handycam.

Ridlwan adalah santri putra tingkat I’dadi di Ma’had Al-Zaytun, membayar uang pendaftaran sebesar Rp 13.500.000 tinggal di Asrama Al-Fajar bersama 12 santri lainnya dalam satu kamar. Usia Ridlwan 11 tahun ketika diwawancarai tim

Dituturkan oleh orangtua Ridlwan sambil masih menunjukkan ekspresi emosi dan kegeramannya terhadap ma'had Al-Zaytun, beliau menuturkan:

Anak saya ini sebenarnya sudah mengeluh dan tidak kerasan tinggal di ma'had sejak liburan Ramadlan. Dengan alasan sering dibentak dan dihardik oleh para ustadz serta diejek oleh teman-teman sekelas maupun teman sekamarnya dengan otok-olok “Ambon hitam” yang berlangsung terus setiap hari tanpa ada pembelaan dari murabbi yang sebenarnya bertanggung-jawab khusus di lingkungan kamar asrama.

Pertama kali pengaduan anak saya via telepon saya terima, katanya ia telah dipukuli oleh ustadznya, namun pengaduan itu saya tanggapi dengan kepala dingin, mungkin anak saya tersebut nakal atau melanggar, sehingga saya biarkan saja. Namun tiba-tiba sekitar satu bulan setelah itu ia mengadu lagi via telepon, bahwa ia telah dicekik dan diancam akan dihabisi, hal tersebut diceritakan sambil menangis dan mengharap betul agar segera dijemput.



Itulah latar belakang kami menjemput Ridlwan dari Al-Zaytun berkenaan dengan cara Al-Zaytun mendidik para santri sebagaimana yang diceritakan oleh Ridlwan anak kami. Padahal tadinya kami berharap pada anak tersebut dengan memasukkan ke pesantren jauh-jauh dari Ambon, selain karena situasi yang kurang aman di sana maka pendidikan ke-Islaman yang kuat dan benar adalah bisa diperoleh anak kami.

Kepercayaan kami terhadap ma'had Al-Zaytun saat itu karena lebih mendasarkan kepada wujud fisik bangunan megah pesantren tersebut, saya pikir mana mungkin keseriusan yang tercermin dari usaha membangun pesantren yang megah bak dongeng tersebut dikelola secara sembarangan? Di samping itu memang saya sempat diyakinkan oleh saudara saya yang kebetulan akan memborong proyek pembangunan fisik di kawasan ma'had Al-Zaytun, walaupun ternyata pada akhirnya pekerjaan tersebut tidak jadi alias batal.

Tapi ya itulah kenyataannya, kepercayaan kami selaku orangtua menjadi pupus terhadap ma'had Al-Zaytun manakala kami dapati cerita anak kami Ridlwan yang ternyata sangat mengecewakan. Bayangkan, anak kami yang dulu periang dan lincah, sekarang menjadi seperti anak stress, kadang suka ngomong sendiri dan sering termenung dan bahkan ketika kami tanyakan kepada anak kami tentang pelajaran dan penguasaan baca-tulis Al-Qur'an, ternyata anak kami masih sama dengan ketika sebelum ia masuk ke ma'had Al-Zaytun.

Baca Qur'annya malah sama sekali rusak, karena dilakukan tanpa tajwid, semua dibaca secara datar seperti bacaan bahasa kita berbicara sehari-hari, tata cara wudlunya pun malah terlihat sembarangan, ketika hal tersebut ditanyakan jawabnya, “Aku di sana (ma’had Al-Zaytun, maksudnya) tidak diajari…”
Orangtua Ridlwan mempersilahkan penulis dan tim SIKAT langsung mewawancarai anaknya. Di bawah ini kutipan wawancara penulis dengan Ridlwan yang direkam handycam, sebagai berikut:

Bisa disebutkan nama lengkapnya?
Nama saya Ridlwan bin Syeban, Ayah saya bernama Tamim bin Syeban.

Kapan Ridlwan masuk dan kenapa sampai keluar dan diculik dari ma'had Al-Zaytun?
Saya masuk pesantren Al-Zaytun diantar oleh ayah langsung dari Ambon dan langsung menuju ma'had Al-Zaytun. Awalnya saya senang dan biasa-biasa saja. Tetapi setelah liburan Ramadlan kemarin tiba-tiba saya merasa tidak suka setelah teman-teman saya, baik di kelas maupun di kamar asrama semakin sering mengejek saya dengan kata-kata panggilan “Ambon hitam" bila memanggil nama saya dan juga mempermainkan serta memukul saya.

Bukankah pada setiap kamar asrama ada satu murabbi yang mengawasi serta membimbing kamu?
Iya betul, tapi ustadzanya diam dan membiarkan saja.

Di kamar kamu bersama berapa teman?
Satu kamar isinya 13 orang, tapi yang lain cuma 10 orang.

Sekarang tolong lanjutkan ceritanya.
Karena terus menerus begitu akhirnya saya tidak betah. Lalu saya menyampaikan keinginan untuk pulang kepada ustadz pembimbing (murabbi),tapi dijawab, itu tidak boleh.Dan ketika ustadznya tahu kalau saya mulai tidak betah dan berkeinginan untuk berhenti dari Al-Zaytun, ustadznya mulai galak dengan saya.
Akhirnya saya sering menangis dan minta dipulangkan, oleh teman-teman malah diledek, "Ambon cengeng". Karena saya sering menangis dan minta pulang saya sering dibentak dan dipukul. Lalu saya menjadi malas belajar dan terus minta pulang, setiap saya minta pulang saya dipukul oleh ustadz Syaifuddin Ibrahim.

Akhirnya saya menelepon Ayah di Ambon dan mengadukan pemukulan itu. Tapi ayah saya tidak datang-datang. Pernah paman saya yang di Jakarta datang untuk mengambil saya tapi tidak diperbolehkan oleh Sekretariat, karena syaratnya harus langsung Ayah sendiri.
Lalu karena saya sudah malas belajar dan minta pulang terus akhirnya saya pernah dikeluarkan dari kelas dan dibawa ke kamar 130, di situ saya dipukuli oleh ustadz Ibrahim dan dia langsung membentak sambil mencekik teher saya dengan mengancam, “Kalau kamu minta pulang terus, saya habisi kamu!”

Kamar 130 itu apa dan siapa ustadz Ibrahim itu?
Kamar 130 itu kamar dewan guru tempat menyiksa dan memukuli santri-santri yang melanggar, Ustadz Syaifuddin Ibrahim itu adalah ketua dewan gurunya, orangnya tinggi besar, kulitnya hitam dari NTB dan terkenal jahat, usianya seperti bapak (penulis maksudnya, pen.). Kalau ada anak yang berantem dan berdarah, yang memukul juga akan dibuat berdarah, qisas.

Menurut Ridlwan ustadz yang baik tentu ada kan?
Ya ada, tapi ustadznya kebanyakan jahat-jahat, suka membentak dan memukul.

Setelah kamu dicekik oleh ustadz Ibrahim lalu kamu terus mengadukan ke siapa?
Saya malamnya lantas telepon ke Ambon dan menceritakannya kepada Ayah, sambil menangis. Beberapa hari kemudian keluarga saya yang di Jakarta datang dengan sopirnya. Itu hari Sabtu atau Jum'at tiga hari sebelum Idul Adlha.
Waktu itu ada pengunjung yang menanyakan nama Ridlwan, padahal nama Ridlwan di asrama ada tiga orang, setelah di antara kami saling menyuruh untuk menemui, akhirnya saya yang maju, saya ditemui oleh seseorang yang ternyata sopir paman saya dan ditanya, “kamu punya paman yang tinggalnya di Bogor?”
Saya jawab: “ya betul.” Lalu sopir paman saya mengatakan, "Paman kamu sudah di masjid. Kamu sekarang ke sana tapi pura-pura saja tidak kenal, lalu setelah itu carilah mobil Carry pamanmu di tempat parkir dan masuklah dari pintu belakang, dan sembunyilah dibawah jok tengah.” Setelah bicara, sopir paman saya langsung pergi. Setelah tiba shalat Dzhuhur saya ke masjid dan setelah selesai shalat saya langsung mencari mobil Carry paman saya, terus saya langsung masuk dan sembunyi di bawah jok tengah. Kemudian setelah itu mobil paman saya berangkat. Setelah melalui pintu pemeriksaan, akhirnya saya lolos, mobil paman saya terus ngebut. Saya baru disuruh bangun dari bawah jok oleh paman saya setelah berada di pintu tol Bekasi.

Setelah kamu berada di rumah paman di Bogor, apakah pihak Al-Zaytun pernah mencari-cari atau menanyakan kamu?
(Dijawab oleh kakak sepupunya): Mereka (pihakAl-Zaytun) menghubungi via telepon di alamat dia mendaftar, yaitu di rumah pamannya yang lain di Rawa Domba Pulo Gadung, Jakarta Timur.
Setelah dua minggu di Bogor baru kita bawa kemari untuk diantar pulang ke Ambon. Rencananya hari Selasa, 26 Maret besok kita antar ke Ambon.

Coba kini ceritakan aktivitas rutin kamu di Al-Zaytun sejak bangun pagi hingga tidur malam.
Masuk kamar asrama jam tidur pukul 22.00, pintu dikunci dan bangun pukul 03.00 pagi lalu mandi dan terus ke masjid, menunggu sampai waktu shubuh, setelah selesai shalat shubuh, tahfidzh sendiri-sendiri selama setengah jam, lalu kembali ke asrama melakukal tugas piket kamar. Pukul 06.00 sarapan pagi, pukul 07.00 masuk sekolah, istirahat sebentar untuk shalat Dzhuhur berjama'ah lalu kembali lagi ke asrama pukul 12.30 makan siang di kantin, pukul 13.00 istirahat sampai pukul 14.00 Kemudian bangun pukul 13.30, mufradat sampai pukul 15.00, lantas persiapan shalat Ashar.
Setelah Shalat Ashar berjama'ah, acara bebas makan snack di kantin, setelah itu waktu untuk olahraga, atau ke laundry. Setelah mandi sore langsung ke Masjid untuk Shalat Maghrib berjama'ah, dilanjutkan dengan tahfidzh hingga shalat Isya'.
Kemudian makan malam pukul 20.00, selanjutnya kembali ke asrama ke ruang belajar sampai pukul 21.30. Selanjutnya pukul 22.00 masuk kamar untuk tidur.

Ustadz atau Murabbi-nya ikut tidur juga saat itu?
Ustadznya boleh keluar, kita dikunci dari luar.
Bagaimana pergaulan antara santri putra dengan putri, apakah bebas berbicara atau pacaran?
Pergaulannya biasa-biasa saja, ada acara ulang tahun, Valentine’s Day dan ada yang pacaran, tapi kalau ketahuan surat-menyurat nilai akhlaqnya dikurangi.

Antara ustadz dan ustadzah-nya ada yang pacaran?
Ada, banyak, ustadz-nya kan bebas, yang dinikahkan juga ada.

Do'a apa saja yang diajarkan?
Do'a menuntut ilmu dan setiap do'a diakhiri membaca Sami'na wa atha'na ghufranaka Rabbana wa ilaikal mashir.

Do'a untuk orangtua?
Tidak dianjurkan.

Bagaimana kamu diajarkan tentang ketaatan atau kepatuhan kepada Allah?
Kita diajarkan patuh dan taat kepada para ustadz dan Syaikh al ma'had.

Apa yang diajarkan kepada kamu tentang Syaikh ma'had, tentang Al-Zaytun misalnya?
Tentang Syaikh ma'had, dikatakan beliau adalah calon pemimpin bangsa dan dunia karena sudah dikenal oleh pemimpin-pemimpin negara di dunia intemasional. Sehingga banyak negara yang melakukan kerja sama dengan ma'had Al-Zaytun, seperti proyek air minum dari Amerika yang akhirnya setiap santri harus membayar uang sebesar Rp 300.000 untuk membeli peralatan seperti dispenser yang dipasang di setiap kamar asrama, tapi tidak ada air panasnya.
Syai'kh ma'had selalu menceritakan kehebatan Al-Zaytun, dan setiap kami dikumpulkan di Masjid Al-Hayat ceramah yang disampaikan oleh Syaikh ma'had selalu hanya bercerita tentang kehebatan ma'had Al-Zaytun di mata dunia intemasional, sambil mengisahkan jalan-jalan ke luar negeri, tentang Menara Eifel di Paris, kereta api listrik dan banyak.

Bagaimana kamu diajarkan dalam mendo'akan Syaikh al-Ma'had?
Setiap Syaikh ma'had akan pergi ke luar negeri, semua santri dikumpulkan, lantas diberitahukan misi dan keperluan kepergiannya kemudian kita disuruh mengamini do'a yang dibacakan oleh wakil Syaikh untuk kesuksesan Syaikh al Ma'had.

Kamu tahu tempat istirahat atau menginapnya Syaikh al-Ma'had, kamarnya dimana?
Ruangan Syaikh di lantai 5 Gedung Al Musthafa, bagian ujung yang ada antena parabolanya.

Berarti di lingkungan asrama putri dong?
Betul, di lantai 6 juga ada asrama santri putri.

Pada saat Ramadlan yang lalu Zakat Fithrah kamu ditetapkan berapa?
Untuk angkatan saya besarnya Rp 300.000 tapi untuk anak kelas Dua hanya Rp 100.000.

Harakat Qurban?
Ditetapkan Rp 350.000 tapi saya belum membayarnya. Karena saya sudah kabur duluan.

Untuk makan sehari-hari, katanya diambilkan dari hasil peternakan atau dari kolam sendiri?
Betul, tapi setiap hari kita tidak makan daging sapi, kalau ikan kita tidak pernah diberi dari kolam sendiri. Karena ikan yang di kolam itu hanya untuk menjamu para tamu Syaikh saja.

Kamu pernah mendengar dari para ustadz atau Syaikh ma'had tentang Negara Islam?
Pernah, dikatakan oleh para ustadz itu, kami dididik dan disiapkan untuk menjadi pemimpin negara Islam.

Kamu pernah mendengar keluhan atau hal yang tak wajar tentang para ustadz?
Pernah ustadznya cerita kalau gajinya yang Rp 400.000 per bulan itu yang Rp 300.000 harus disetorkan ke ma'had sebagai infaq. Selain itu dosen pelajaran HAM adalah dari Kristen. Para ustadz juga menceritakan, bahwa mereka pun diajar oleh dosen yang agamanya Kristen.

Kamu tahu berapa banyak teman-temanmu yang lari atau mengundurkan diri?
Sebelum saya kabur dari ma'had, dua teman saya Arrizal dan Akbar telah kabur duluan. Mereka kabur dari ma'had pada waktu shubuh ketika sedang hujan melalui persawahan. Arrizal rumahnya di Tangerang sedangkan Akbar rumahnya di Jogyakarta. Waktu liburan semester kemarin yang tidak kembali ke ma'had sebanyak 17 santri.


Kontak Ridwan di 08562599540

Tidak ada komentar:

Posting Komentar